Terima Kasih Telah Mengunjungi BLOG arispriatmaja.blogspot.com

Minggu, 26 Januari 2014

Iya atau tidak ?

   Banyak orang termenung dan enggan kalau sudah membicarakan sampah. Apalagi itu sampah bukan masalah sampah di alam saja, melainkan sampah yang ada di pikiran juga yang sering dikenal dengan pikiran negatif. Hampir mirip sich keduanya membuat suatu hal yang tidak mengenakkan, yang satu membuat pikiran jadi ga bagus dan yang satu lagi membuat alam jadi ga bagus. 
Terus bagaimana sich caranya agar semuanya jadi lebih positif ?      
Apakah semua yg dipikiran positif itu bagus ?  
Saya pernah mendengar bahwa "lakukanlah semua dengan pikiran positif maka hidupmu akan damai". Namun ada juga beberapa ilmu yang mengajarkan kita harus berpikir negatif juga karena pikiran negatif itu membuat waspada dalam diri kita. 
Jadi sebenarnya yang mana yang benar ya ?He he he....   

Memang sedikit susah untuk di cerna ya ! pikiran positif sich bagus tetapi negatif dikit juga penting biar waspada. Ibaratnya sampah kalau dibilang negatif memang ia, kalau dibilang positif juga iya, jadi sekarang tergantung orangnya. kalau mau bagus harus bisa menyeimbangkan.   
Tetapi yang perlu diingat : Sinclair (dalam Eysenck, 1990) menyatakan bahwa individu-individu yang mempunyai pikiran positif cenderung melihat hal yang positif secara lebih baik. Bagi individu yang menggunakan pola pikir positif, maka akan timbul keyakinan bahwa setiap masalah akan ada jalan pemecahannya. Pola pikir positif adalah cara berpikir yang optimis terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Individu yang biasa berpikir positif tidak mudah menyalahkan diri sendiri ataupun lingkungan apabila terjadi kesalahan. Kecenderungan berpikir individu baik positif maupun negatif akan membawa pengaruh terhadap penyesuaian dan kehidupan psikisnya (Goodhart, 1985).Membentuk sikap positif terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan akan membuat seseorang melihat keadaan tersebut secara rasional, tidak mudah putus asa ataupun menghindar dari keadaan tersebut, tetapi justru akan mencari jalan keluarnya (Peale, 1996).Menurut Albrecht (1980) berpikir positif berkaitan dengan perhatian positif (positive attention) dan juga perkataan yang positif (positive verbalization). Perhatian positif berarti pemusatan perhatian pada hal-hal dan pengalaman-pengalaman yang positif, sedangkan perkataan yang positif adalah penggunaan kata-kata ataupun kalimat-kalimat yang positif untuk mengekspresikan isi pikirannya, hal ini pada akhirnya akan menghasilkan kesan yang positif pada pikiran dan perasaan.Aspek-aspek Berpikir Positif Albrecht (1980) menyatakan bahwa dalam berpikir positif tercakup aspek- aspek sebagai berikut:
  1. Harapan yang positif (positive expectation). Yaitu melakukan sesuatu dengan lebih memusatkan perhatian pada kesuksesan, optimisme, pemecahan masalah dan menjauhkan diri dari perasaan takut akan kegagalan.
  2. Affirmasi diri (Self affirmative). Yaitu memusatkan perhatian pada kekuatan diri, melihat diri secara positif. Dalam hal ini individu menggantikan kritik pada diri sendiri dengan memfokuskan pada kekuatan diri sendiri.
  3. Pernyataan yang tidak menilai (non judgement talking). Yaitu suatu pernyataan yang lebih menggambarkan keadaan daripada menilai keadaan. Pernyataan ataupun penilaian ini dimaksudkan sebagai pengganti pada saat seseorang cenderung memberikan pernyataan atau penilaian yang negatif. Aspek ini akan sangat berperan dalam menghadapi keadaan yang cenderung negatif.
  4. Penyesuaian diri yang realistik (realistic adaptation). Yaitu mengakui kenyataan dan segera berusaha menyesuaikan diri dari penyesalan, frustasi dan menyalahkan diri.
     Individu yang berpikir positif adalah individu yang mempunyai harapan dan cita-cita yang positif, memahami dan dapat memanfaatkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dan menilai positif segala permasalahan. Albrecht (1980) berpendapat bahwa individu yang berpikir positif akan mengarahkan pikiran-pikirannya ke hal-hal yang positif, akan berbicara tentang kesuksean daripada kegagalan, cinta kasih daripada kebencian, kebahagiaan daripada kesedihan, keyakinan daripada ketakutan, kepuasan daripada kekecewaan sehingga individu akan bersikap positif dalam menghadapi permasalahan. Menurut Peale (1996) dengan berpikir positif, individu dapat menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil disekitarnya. Sedangkankan Kekuatan Berpikir Negatif (Kritis). Kebiasaan berpikir negatif (kritis) bisa memberikan citra yang negatif bagi Anda bila sering memperagakannya. Relasi dengan orang lain bisa jadi kurang baik; orang lain bisa menghindar untuk bergaul dengan Anda. Namun demikian, kekuatan berpikir kritis sangat besar. 
Pertama, ia mampu menahan gempuran ide-ide yang kelihatan menarik dan menjanjikan. Di tengah-tengah banyaknya persoalan, ide bisa digulirkan dan dibuat menarik sedemikian rupa. Data-data pendukung dan analisa disajikan. Ide dipresentasikan dengan begitu memukau. Namun, hanya proses berpikir kritislah yang bisa membendungnya. Berpikir kritis mempelajari substansi dan motif di balik ide dan agenda tersembunyi. Ia memeriksa dengan teliti bagaimana sasaran akan diraih, mempelajari dampak bila ide diimplementasikan dan merinci hal-hal yang membuat ide tidak akan berjalan. Ia tidak mau dikecoh oleh usul-usul yang kelihatan menarik, tetapi ia membuat benteng dengan menggunakan asumsi bahwa orang lain bisa salah.Berpikir kritis akan menyajikan dampak buruk dari pemikiran-pemikiran mentah, menolak ide reformasi tanpa persiapan matang dan menyajikan implikasi negatif dari ide-ide spontan. Ia mampu mengusir ide-ide yang konyol dan membuat daftar kerugian bila ide-ide yang tidak matang diterapkan.
Kedua, berpikir kritis dapat membendung pikiran-pikiran yang salah. Dalam lingkaran agama misalnya, pikiran-pikiran atau ajaran-ajaran aneh bisa muncul. Berpikir kritis bisa mematahkan pikiran, ajaran atau doktrin yang berlawanan dengan ajaran yang solid. Ia mampu melestarikan ajaran-ajaran yang baku.Ia lihai menunjukkan kelemahan ajaran-ajaran sesat yang dibungkus dengan retorika yang kosong. Ia dapat menghancurkan kekuatan persuasif dan janji-janji palsu dari pemimpin agama yang ingin mengelabui publik.Selain itu, berpikir kritis dapat merantai ajaran-ajaran membingungkan. Ia menguji asumsi-asumsi yang digunakan dan mengecek apakah adaharmonisasi antara prinsip yang satu dengan prinsip lainnya. Ia menelanjangi hal-hal yang tidak masuk akal dengan menyodorkan pikiran-pikiran umum (common sense), hati nurani, dan terutama informasi-informasi yang otoritatif.
Ketiga, berpikir negatif (kritis) mampu membuat daftar kelemahan dari data-data yang digunakan untuk mendukung sebuah usulan.Ia tidak terpukau akan hal-hal yang menguntungkan. Ia mampu mengecek kesalahan dari data-data pendukung yang digunakan.Ia menyodorkan data-data yang paling otoritatif untuk menggugurkan data-data pendukung sebuah usulan dan menunjukkan kelemahannya. Ia menghitung kerugian- waktu, materi, tenaga, dan uang- kalau ide diterapkan. Dengan kata lain, ia menyajikan informasi penyeimbang dan alasan-alasan yang kuat untuk mematahkan usulan-usulan yang kelihatan menjanjikan.
Keempat, berpikir kritis mampu mengawal hal-hal baik dan menolak ide-ide yang kelihatannya bagus dan hebat, tapi berbahaya.Berpikir kritis bisa menjaga kestabilan sebuah kondisi. Ia menjaga agar ide-ide yang baru bukan merusak hal-hal yang sudah baik. Ia mengawal agar apa yang sudah berjalan dengan baik tidak dirusak oleh ide-ide yang belum teruji. Ia mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan, membentengi progres yang telah berjalan dengan baik dan menjaga agar tetap stabil dan terus maju dalam koridor yang benar.
Bagaimana proses berpikir negatif melakukannya? Informasi. Ia menggunakan informasi yang terpercaya dan alasan-alasan logis.
Renungan:
  • Bila ada usulan yang mungkin berbahaya, gunakankan proses berpikir ktitis untuk menahannya; sajikanlah informasi yang akurat. Tunjukkanlah alasan-alasan yang kuat dalam kritik Anda.

Jadi mau yang mana ?  Jelas Positif DUNK.          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar